Rabu, 31 Agustus 2011
Senin, 25 Juli 2011
Ceramah - Cara Memberi Kondisi yang Baik Saat Menjelang Kematian
Bagaimana Cara Memberi Kondisi yang Baik Bagi Seseorang Pada Saat Menjelang Kematian
oleh Bhante Gunasilo
Di dunia ini ia bergembira, di dunia sana ia bergembira,
pelaku kebajikan bergembira di kedua dunia itu. Ia bergembira dan bersuka cita melihat perbuatannya sendiri yang bersih.
(Dhammapada 16)
(Dhammapada 16)
Didunia ini, tidak ada seorangpun yang luput dari kematian. Kematian itu datang dan tiba tidak dapat diketahui. Kematian juga akan selalu datang kepada siapa saja tanpa mengenal waktu, tempat, dan keadaan. Juga tidak mengenal usia, baik masih bayi, anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua
Dalam Dhammapada syair 28, Buddha bersabda: tidak di langit, di lautan, di celah-celah gunung atau di manapun juga dapat ditemukan suatu tempat bagi seseorang untuk dapat menyembunyikan dirinya dari kematian
Menurut Hukum Kamma, ketika seseorang meninggal dunia maka orang itu akan dilahirkan di salah satu dari 31 alam kehidupan sesuai dengan kammanya masing-masing. Tetapi kamma yang dibuat seseorang sesaat sebelum kematian, ini juga dapat memberikan akibat. Misalnya: apabila seseorang itu ingat perbuatan yang baik seperti berdana, pergi ke tempat-tempat ibadah, bermeditasi, dan sebagainya kemungkinan besar ia akan terlahir di alam bahagia. Namun apabila ia selalu teringat dengan perbuatan jahatnya, seperti membunuh, mencuri, berzina, berdusta dan sebagainya maka orang itu akan dilahirkan di alam menderita. Oleh karena itu pada saat mau menjelang kematian, pikiran kita harus diisi dengan hal-hal yang baik agar tidak terjatuh ke alam-alam yang menyedihkan.
Dalam Dhammapada syair 28, Buddha bersabda: tidak di langit, di lautan, di celah-celah gunung atau di manapun juga dapat ditemukan suatu tempat bagi seseorang untuk dapat menyembunyikan dirinya dari kematian
Menurut Hukum Kamma, ketika seseorang meninggal dunia maka orang itu akan dilahirkan di salah satu dari 31 alam kehidupan sesuai dengan kammanya masing-masing. Tetapi kamma yang dibuat seseorang sesaat sebelum kematian, ini juga dapat memberikan akibat. Misalnya: apabila seseorang itu ingat perbuatan yang baik seperti berdana, pergi ke tempat-tempat ibadah, bermeditasi, dan sebagainya kemungkinan besar ia akan terlahir di alam bahagia. Namun apabila ia selalu teringat dengan perbuatan jahatnya, seperti membunuh, mencuri, berzina, berdusta dan sebagainya maka orang itu akan dilahirkan di alam menderita. Oleh karena itu pada saat mau menjelang kematian, pikiran kita harus diisi dengan hal-hal yang baik agar tidak terjatuh ke alam-alam yang menyedihkan.
Untuk itu penting sekali bagi kita mengetahui agar ketika kita melihat saudara kita atau orang lain yang sedang sekarat, sakit berat, atau akan menjelang kematian kita bisa membantunya untuk memberikan kondisi yang baik pada saat seseorang itu menjelang kematian
Membantu Memunculkan Penampakan yang Baik
Ketika seseorang menderita sakit dan berangsur mendekati kematian secara alamiah, guru, teman, maupun sanak keluarga dianjurkan agar membantu munculnya obyek yang baik dalam penampakan orang itu. Ketika kita yakin bahwa yang bersangkutan sudah tidak dapat disembuhkan lagi, kita harus memelihara ruangan dan sekelilingnya tetap bersih dan mempersembahkan bunga-bunga di altar Sang Buddha. Pada malam hari, seluruh ruangan harus diterangi, kemudian kita mengatakan kepada yang bersangkutan untuk membayangkan bunga-bunga dan lilin-lilin yang dipersembahkan di altar Sang Buddha atas namanya dan memintanya untuk bergembira atas perbuatan baik tersebut. Kita juga harus membaca paritta, bila perlu mengundang bhikkhu, berdana, mendengarkan paritta-paritta suci, kotbah Dhamma, mengajarkan meditasi cinta kasih, sehingga pikirannya tertuju pada obyek yang baik. Orang-orang yang ada tidak boleh bersedih. Pengucapan dan persembahan penghormatan seharusnya tidak hanya dilakukan pada saat menjelang kematiannya, tetapi harus dilakukan pada hari-hari sebelumnya. Dengan demikian ia akan diliputi dengan pikiran yang baik. Sebagai akibat dari menit-menit terakhir yang dipenuhi pikiran baik, ia akan dilahirkan di alam bahagia. Ada satu tradisi turun-temurun di Srilanka yang terbentuk melalui pengetahuan dan kesadaran akan adanya potensi kamma menjelang kematian. Tradisi ini dapat dilihat dalam kisah Upasaka Dhammika.
Di Savatthi ada seorang yang bernama Dhammika. Ia seorang umat yang berbudi luhur dan sangat gemar memberikan dana makanan serta kebutuhan lain kepada para bhikkhu secara tetap. Juga ia sering berdana pada waktu yang istimewa. Ia juga seorang pemimpin umat Buddha yang berbudi luhur dan tinggal dekat Savatthi. Dhammika mempunyai tujuh orang putra dan tujuh orang putri. Sama seperti ayahnya, suka berdana dan berbudi luhur. Suatu ketika Dhammika sakit dan berbaring di tempat tidurnya, ia membuat permohonan kepada sangha untuk datang kepadanya membacakan paritta-paritta suci di samping pembaringannya. Ketika para bhikkhu membacakan “Mahasatipatthana Sutta”, enam kereta berkuda yang penuh hiasan dari alam surga datang mengundangnya pergi ke masing-masing alam. Dhammika berkata kepada mereka untuk menunggu sebentar, takut kalau mengganggu pembacaan sutta. Bhikkhu itu berpikir bahwa mereka dimohon untuk berhenti, maka mereka berhenti dan meninggalkan tempat itu. Sesaat kemudian, Dhammika memberitahu anak-anaknya tentang kereta kuda yang penuh hiasan sedang menunggunya. Ia memutuskan untuk memilih kereta kuda dari surga Tusita dan menyuruh dari satu anaknya memasukkan karangan bunga pada kereta kuda tersebut, kemudian ia meninggal dunia dan terlahir di surga Tusita.
Prinsip yang sangat menonjol dan sangat penting dari cerita di atas adalah:
1. Mengingat orang yang akan meninggal tersebut mengenai perbuatan-perbuatan baik yang telah dilakukannya semasa hidup. Setiap orang pasti pernah melakukan perbuatan-perbuatan baik, untuk itu kita perlu membantunya agar ia dapat mengingat perbuatan baiknya yang pernah ia lakukan.
2. Memberi kesempatan kepada orang yang akan meninggal ini dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik, misalnya mendengarkan pembacaan paritta, kotbah Dhamma, mengundang para bhikkhu, berdana, mengajarkan meditasi cinta kasih, dan sebagainya.
3. Meyakinkan orang yang akan meninggal dunia untuk melepas semua ikatan dan kemelekatan terhadap apa saja dan kepada siapa saja. Jangan memendam kebencian ataupun kesalahan atas semua yang pernah dia lakukan. Orang-orang yang hadir harus dipesankan untuk tidak menangis di tempat ia berada karena hal ini bisa memperkuat kemelekatannya. Apabila kita bisa mengkondisikan hal-hal yang baik, maka semoga orang yang meninggal ini dapat terlahir di alam bahagia.
Oleh karena itu kita sebagai umat Buddha yang baik, apabila kita melihat teman atau saudara kita yang sedang sakit bantulah mereka dengan niat baik dan tulus. Selalu mengingat-ingat perbuatan yang baik, sehingga ketika mereka meninggal dunia dapat terlahir di alam bahagia.
Sabtu, 23 Juli 2011
Syair-Menjadi Rajawali
ANDAI AKU MENJADI RAJAWALI
Andai aku menjadi rajawali....
Terbang tinggi menuju mentari
Akan kukunjungi alam dewa dewi
Dan memohon untuk turun ke bumi
Dewa dewi akan menjadi ngeri....
Menyaksikan kejadian di peloksok negeri
Peperangan dan kekerasan menyiksa diri
Kerusuhan dan bencana disana sini
Andai aku menjadi rajawali....
Terbang tinggi menuju mentari
Akan kukunjungi alam dewa dewi
Dan memohon untuk turun ke bumi
Dewa dewi akan menjadi ngeri....
Menyaksikan kejadian di peloksok negeri
Peperangan dan kekerasan menyiksa diri
Kerusuhan dan bencana disana sini
Andai aku menjadi rajawali....
Terbang tinggi menuju mentari
Akan kukunjungi alam dewa dewi
Dan memohon untuk penguatan diri
Andai aku menjadi rajawali....
Kokoh kuat lagi perkasa
Akan kubangun semua negeri
Sesuai petunjuk para dewa dewi
Sumber Inspirasi : "Dhammasuka Jo Priastana"
Syair -Satu Buddhha
JANGAN TANYA BUDDHA APA DI HATIKU
Jangan tanya Buddha apa di hatiku
Bukan theravada
Bukan mahayana
Bukan pula yang lainya
Jangan tanya benih apa yang kutaburkan
Bukan tri-dharma
Bukan maitreya
Bukan pula nichiren soshu
Jangan tanya benih apa yang kutaburkan
Bukan tantrayaana
Bukan Buddhayana
Bukan pula kasogatan
Karena....bila suatu nama kusebut
Begitu DIA menjadi berbeda
Dalam makna yang ada dihatiku
Dan...Buddha pun hanya tersenyum
Theravada......., Mahayana.......
Apalah bedanya dalam arti dan makna
Sekte cuma rakit para penyebrang
Yang sama-sama berdayung dan mendayung
Dan sama-sama tidak ada pemenang
Dalam ragam upacara dan puja
Arti yang sama
Dalam cara yang berbeda
Tujuan yang satu
Dalam jalan yang beragam
Kutipan "Dhammasuka Jo Priastana"
Jangan tanya Buddha apa di hatiku
Bukan theravada
Bukan mahayana
Bukan pula yang lainya
Jangan tanya benih apa yang kutaburkan
Bukan tri-dharma
Bukan maitreya
Bukan pula nichiren soshu
Jangan tanya benih apa yang kutaburkan
Bukan tantrayaana
Bukan Buddhayana
Bukan pula kasogatan
Karena....bila suatu nama kusebut
Begitu DIA menjadi berbeda
Dalam makna yang ada dihatiku
Dan...Buddha pun hanya tersenyum
Theravada......., Mahayana.......
Apalah bedanya dalam arti dan makna
Sekte cuma rakit para penyebrang
Yang sama-sama berdayung dan mendayung
Dan sama-sama tidak ada pemenang
Dalam ragam upacara dan puja
Arti yang sama
Dalam cara yang berbeda
Tujuan yang satu
Dalam jalan yang beragam
Kutipan "Dhammasuka Jo Priastana"
Jumat, 22 Juli 2011
Ceramah Kehidupan Berkeluarga Yang Sesuai Dengan Buddha Dhamma
Oleh: Bhikkhu Dhammabalo (10 Juli 2011)
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Kehidupan Berkeluarga
yang sesuai dan selaras dengan Buddha Dhamma
Dengan kekuatan semua Buddha, dengan kekuatan semua Dhamma, dengan kekuatan semua Saṅgha, dengan kekuatan ketiga mustika, berbahagialah kita semua.
Kehidupan berkeluarga sejak jaman kehidupan Guru Agung kita, Sang Tathāgata Buddha Gotama 2555 BE (Buddhis Era) atau 2011 tahun masehi. Pada hakikatnya, hanya sebagian kecil saja umat Buddha (upasaka/upasika) yang dapat menyelaraskan diri mengikuti jejak langkah Sang Buddha dengan menempuh kehidupan Pabbajja (petapa/ samana) dengan menjadi bhikkhu, bhikkhuni, samanera, samaneri, meici, ayya, sayale, dan lain sebagainya.
Sebagian besar umat Buddha, upasaka/upasika menempuh jalur kehidupan normal sebagai perumah tangga (gharāvāsa).
Hubungan Antara Suami Istri
Ada beberapa faktor yang diajarkan dan ditunjukkan Sang Buddha kepada pasangan suami istri, yang akan menempuh kehidupan rumah tangga (gharāvāsa) agar mendapat keharmonisan dan kebahagiaan yaitu :
1. Sama Saddhā ( sama keyakinan)
Dalam kehidupan sehari-hari, saddha/keyakinan suami istri yang baik tentu saja adalah kepada Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Saṅgha), sehingga kita dapat mengetahui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa dan tentang Dhamma Niyama (Hukum Universal) yang mengatur alam semesta di jagad raya ini beserta isinya. Untuk memperkuat saddhā/keyakinan pada Tiratana, pasangan suami istri yang baik harus sering melakukan perenungan tentang adanya Hukum Kamma. (Majjhima Nikāya, 135)
2. Sama Sīla (sama moralitas)
Suami dan istri sama-sama melaksanakan latihan peraturan moral. Dengan bertekad secara murni dan konsekuen akan menjalankan Pañcasīla Buddhis sebagai kekuatan pondasi rumah tangga.
Pañcasīla :
a.Bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk
hidup,
b.Bertekad melatih diri menghindari pengambilan barang
yang tidak diberikan/barang yang bukan miliknya,
c.Bertekad melatih diri menghindari perbuatan asusila,
d.Bertekad melatih diri menghindari ucapan yang tidak
benar (dusta)
e.Bertekad melatih diri menghindari segala minuman keras
yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran.
(Aṅguttara Nikāya V)
3.Sama Cāgā (sama kemurahan hati)
Pasangan suami istri mempunyai tekad dan semangat untuk melakukan kebaikan dan pertolongan pada kebahagiaan yang ditujukan untuk semua makhluk. (Mahatidana)
4. Sama Paññā (sama kebijaksanaan)
Pasangan suami istri akan mengerti dan memahami konsepsi pengertian pada kehidupan tentang anicca, dukkha dan anatta.Anicca(ketidakkekalan),dukkha(sulit mempertahankan
sesuatu karena sesuatu itu tidak kekal), dan anatta (tanpa inti atau jiwa yang kekal). Sampai tercapainya penerangan sempurna atau Nibbāna.
Sang Buddha juga menyebutkan dalam ajaran-Nya :
- Pria yang mau menjalankan Pañcasīla Buddhis disebut
pria berwatak baik (deva).
- Wanita yang mau menjalankan Pañcasīla Buddhis disebut
wanita berwatak baik (devi).
- Pria yang tidak menjalankan Pañcasīla Buddhis disebut
pria berwatak tidak baik (chavo).
- Wanita yang tidak menjalankan Pañcasīla Buddhis disebut
wanita berwatak tidak baik (chava).
(Aṅguttara Nikāya II hal. 53)
Kemudian, kepada para wanita atau para istri yang ingin menjalankan sifat sebagai wanita baik (devi), Sang Buddha menganjurkan agar menjauhi dan meninggalkan tiga sifat seperti yang tertera di bawah ini:
1. Istri Pembunuh (vedhakasama)
Istri yang tidak kenal belas kasihan, batinnya kotor
membenci suami, menginginkan pria lain, dan
ingin membunuh.
2. Istri Perampok (corisama)
Istri yang senang merampok hasil perolehan suami.
3. Istri Puti (ayyāsama)
Istri yang malas, kaku, rakus, kasar bicaranya
Suka bergunjing, menguasai suami.
(Aṅguttara Nikāya IV hal. 91)
Sebaliknya, Sang Buddha menguraikan tentang empat jenis istri yang dipandang baik (devi), ideal dan patut dihormati oleh para pria atau suami adalah sebagai berikut:
1. Istri Ibu (mātāsama)
Seorang istri yang hatinya penuh kasih sayang dan
cinta kasih, sangat memperhatikan suami dan
menjaga kekayaan keluarga yg dikumpulkan oleh suami.
2. Istri Saudara (bhaginasama)
Seorang istri yang memperlakukan suami
seperti adik terhadap kakak, melayani suami dan
berhati lemah lembut.
3. Istri Sahabat (sakhisama)
Menyenangi kehadiran suami
seolah-olah baru bertemu setelah berpisah lama,
berkepribadian anggun, lemah lembut dan setia kepada
suami.
4. Istri Pelayan (dāsisama)
Seorang istri harus tenang, sabar, menerima semua
perlakuan (yang) wajar dan mendengarkan dengan
rendah hati kata-kata suami. (Aṅguttara Nikāya IV hal. 93)
Kemudian kepada pria maupun wanita yang ingin menempuh kehidupan perumah tangga (gharāvāsa), Sang Buddha juga menganjurkan untuk melaksanakan empat hal:
1.Uṭṭhānasampadā
Rajin dan bersemangat dalam mengajarkan apa saja, ia terampil dan produktif, berminat dan meneliti cara-cara yang ditempuhnya, serta mampu mengelola pekerjaannya secara tuntas, dalam mencari nafkahnya.
2.Ārakkhasampadā:
Menjaga dengan hati-hati kekayaan apapun yang telah diperoleh dan tidak membiarkannya hilang atau mudah dicuri.
3.Kalyānamitta
Memiliki teman-teman baik, dan tidak bergaul atau mengikuti orang jahat.
4.Samajivitā
Menempuh cara hidup yang sesuai dan seimbang dengan penghasilannya, ibarat sebuah neraca yang mantap, hidup tidak kikir dan tidak boros. (Aṅguttara Nikāya IV hal. 281)
Semoga ulasan Dhamma yang ringkas dapat menjadi lentera penerang bagi para umat yang ingin menempuh kehidupan rumah tangga.
Sebagian besar umat Buddha, upasaka/upasika menempuh jalur kehidupan normal sebagai perumah tangga (gharāvāsa).
Hubungan Antara Suami Istri
Ada beberapa faktor yang diajarkan dan ditunjukkan Sang Buddha kepada pasangan suami istri, yang akan menempuh kehidupan rumah tangga (gharāvāsa) agar mendapat keharmonisan dan kebahagiaan yaitu :
1. Sama Saddhā ( sama keyakinan)
Dalam kehidupan sehari-hari, saddha/keyakinan suami istri yang baik tentu saja adalah kepada Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Saṅgha), sehingga kita dapat mengetahui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa dan tentang Dhamma Niyama (Hukum Universal) yang mengatur alam semesta di jagad raya ini beserta isinya. Untuk memperkuat saddhā/keyakinan pada Tiratana, pasangan suami istri yang baik harus sering melakukan perenungan tentang adanya Hukum Kamma. (Majjhima Nikāya, 135)
2. Sama Sīla (sama moralitas)
Suami dan istri sama-sama melaksanakan latihan peraturan moral. Dengan bertekad secara murni dan konsekuen akan menjalankan Pañcasīla Buddhis sebagai kekuatan pondasi rumah tangga.
Pañcasīla :
a.Bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk
hidup,
b.Bertekad melatih diri menghindari pengambilan barang
yang tidak diberikan/barang yang bukan miliknya,
c.Bertekad melatih diri menghindari perbuatan asusila,
d.Bertekad melatih diri menghindari ucapan yang tidak
benar (dusta)
e.Bertekad melatih diri menghindari segala minuman keras
yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran.
(Aṅguttara Nikāya V)
3.Sama Cāgā (sama kemurahan hati)
Pasangan suami istri mempunyai tekad dan semangat untuk melakukan kebaikan dan pertolongan pada kebahagiaan yang ditujukan untuk semua makhluk. (Mahatidana)
4. Sama Paññā (sama kebijaksanaan)
Pasangan suami istri akan mengerti dan memahami konsepsi pengertian pada kehidupan tentang anicca, dukkha dan anatta.Anicca(ketidakkekalan),dukkha(sulit mempertahankan
sesuatu karena sesuatu itu tidak kekal), dan anatta (tanpa inti atau jiwa yang kekal). Sampai tercapainya penerangan sempurna atau Nibbāna.
Sang Buddha juga menyebutkan dalam ajaran-Nya :
- Pria yang mau menjalankan Pañcasīla Buddhis disebut
pria berwatak baik (deva).
- Wanita yang mau menjalankan Pañcasīla Buddhis disebut
wanita berwatak baik (devi).
- Pria yang tidak menjalankan Pañcasīla Buddhis disebut
pria berwatak tidak baik (chavo).
- Wanita yang tidak menjalankan Pañcasīla Buddhis disebut
wanita berwatak tidak baik (chava).
(Aṅguttara Nikāya II hal. 53)
Kemudian, kepada para wanita atau para istri yang ingin menjalankan sifat sebagai wanita baik (devi), Sang Buddha menganjurkan agar menjauhi dan meninggalkan tiga sifat seperti yang tertera di bawah ini:
1. Istri Pembunuh (vedhakasama)
Istri yang tidak kenal belas kasihan, batinnya kotor
membenci suami, menginginkan pria lain, dan
ingin membunuh.
2. Istri Perampok (corisama)
Istri yang senang merampok hasil perolehan suami.
3. Istri Puti (ayyāsama)
Istri yang malas, kaku, rakus, kasar bicaranya
Suka bergunjing, menguasai suami.
(Aṅguttara Nikāya IV hal. 91)
Sebaliknya, Sang Buddha menguraikan tentang empat jenis istri yang dipandang baik (devi), ideal dan patut dihormati oleh para pria atau suami adalah sebagai berikut:
1. Istri Ibu (mātāsama)
Seorang istri yang hatinya penuh kasih sayang dan
cinta kasih, sangat memperhatikan suami dan
menjaga kekayaan keluarga yg dikumpulkan oleh suami.
2. Istri Saudara (bhaginasama)
Seorang istri yang memperlakukan suami
seperti adik terhadap kakak, melayani suami dan
berhati lemah lembut.
3. Istri Sahabat (sakhisama)
Menyenangi kehadiran suami
seolah-olah baru bertemu setelah berpisah lama,
berkepribadian anggun, lemah lembut dan setia kepada
suami.
4. Istri Pelayan (dāsisama)
Seorang istri harus tenang, sabar, menerima semua
perlakuan (yang) wajar dan mendengarkan dengan
rendah hati kata-kata suami. (Aṅguttara Nikāya IV hal. 93)
Kemudian kepada pria maupun wanita yang ingin menempuh kehidupan perumah tangga (gharāvāsa), Sang Buddha juga menganjurkan untuk melaksanakan empat hal:
1.Uṭṭhānasampadā
Rajin dan bersemangat dalam mengajarkan apa saja, ia terampil dan produktif, berminat dan meneliti cara-cara yang ditempuhnya, serta mampu mengelola pekerjaannya secara tuntas, dalam mencari nafkahnya.
2.Ārakkhasampadā:
Menjaga dengan hati-hati kekayaan apapun yang telah diperoleh dan tidak membiarkannya hilang atau mudah dicuri.
3.Kalyānamitta
Memiliki teman-teman baik, dan tidak bergaul atau mengikuti orang jahat.
4.Samajivitā
Menempuh cara hidup yang sesuai dan seimbang dengan penghasilannya, ibarat sebuah neraca yang mantap, hidup tidak kikir dan tidak boros. (Aṅguttara Nikāya IV hal. 281)
Semoga ulasan Dhamma yang ringkas dapat menjadi lentera penerang bagi para umat yang ingin menempuh kehidupan rumah tangga.
Langganan:
Komentar (Atom)


