Oleh: Bhikkhu Dhammabalo (10 Juli 2011)
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Kehidupan Berkeluarga
yang sesuai dan selaras dengan Buddha Dhamma
Dengan kekuatan semua Buddha, dengan kekuatan semua Dhamma, dengan kekuatan semua Saṅgha, dengan kekuatan ketiga mustika, berbahagialah kita semua.
Kehidupan berkeluarga sejak jaman kehidupan Guru Agung kita, Sang Tathāgata Buddha Gotama 2555 BE (Buddhis Era) atau 2011 tahun masehi. Pada hakikatnya, hanya sebagian kecil saja umat Buddha (upasaka/upasika) yang dapat menyelaraskan diri mengikuti jejak langkah Sang Buddha dengan menempuh kehidupan Pabbajja (petapa/ samana) dengan menjadi bhikkhu, bhikkhuni, samanera, samaneri, meici, ayya, sayale, dan lain sebagainya.
Sebagian besar umat Buddha, upasaka/upasika menempuh jalur kehidupan normal sebagai perumah tangga (gharāvāsa).
Hubungan Antara Suami Istri
Ada beberapa faktor yang diajarkan dan ditunjukkan Sang Buddha kepada pasangan suami istri, yang akan menempuh kehidupan rumah tangga (gharāvāsa) agar mendapat keharmonisan dan kebahagiaan yaitu :
1. Sama Saddhā ( sama keyakinan)
Dalam kehidupan sehari-hari, saddha/keyakinan suami istri yang baik tentu saja adalah kepada Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Saṅgha), sehingga kita dapat mengetahui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa dan tentang Dhamma Niyama (Hukum Universal) yang mengatur alam semesta di jagad raya ini beserta isinya. Untuk memperkuat saddhā/keyakinan pada Tiratana, pasangan suami istri yang baik harus sering melakukan perenungan tentang adanya Hukum Kamma. (Majjhima Nikāya, 135)
2. Sama Sīla (sama moralitas)
Suami dan istri sama-sama melaksanakan latihan peraturan moral. Dengan bertekad secara murni dan konsekuen akan menjalankan Pañcasīla Buddhis sebagai kekuatan pondasi rumah tangga.
Pañcasīla :
a.Bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk
hidup,
b.Bertekad melatih diri menghindari pengambilan barang
yang tidak diberikan/barang yang bukan miliknya,
c.Bertekad melatih diri menghindari perbuatan asusila,
d.Bertekad melatih diri menghindari ucapan yang tidak
benar (dusta)
e.Bertekad melatih diri menghindari segala minuman keras
yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran.
(Aṅguttara Nikāya V)
3.Sama Cāgā (sama kemurahan hati)
Pasangan suami istri mempunyai tekad dan semangat untuk melakukan kebaikan dan pertolongan pada kebahagiaan yang ditujukan untuk semua makhluk. (Mahatidana)
4. Sama Paññā (sama kebijaksanaan)
Pasangan suami istri akan mengerti dan memahami konsepsi pengertian pada kehidupan tentang anicca, dukkha dan anatta.Anicca(ketidakkekalan),dukkha(sulit mempertahankan
sesuatu karena sesuatu itu tidak kekal), dan anatta (tanpa inti atau jiwa yang kekal). Sampai tercapainya penerangan sempurna atau Nibbāna.
Sang Buddha juga menyebutkan dalam ajaran-Nya :
- Pria yang mau menjalankan Pañcasīla Buddhis disebut
pria berwatak baik (deva).
- Wanita yang mau menjalankan Pañcasīla Buddhis disebut
wanita berwatak baik (devi).
- Pria yang tidak menjalankan Pañcasīla Buddhis disebut
pria berwatak tidak baik (chavo).
- Wanita yang tidak menjalankan Pañcasīla Buddhis disebut
wanita berwatak tidak baik (chava).
(Aṅguttara Nikāya II hal. 53)
Kemudian, kepada para wanita atau para istri yang ingin menjalankan sifat sebagai wanita baik (devi), Sang Buddha menganjurkan agar menjauhi dan meninggalkan tiga sifat seperti yang tertera di bawah ini:
1. Istri Pembunuh (vedhakasama)
Istri yang tidak kenal belas kasihan, batinnya kotor
membenci suami, menginginkan pria lain, dan
ingin membunuh.
2. Istri Perampok (corisama)
Istri yang senang merampok hasil perolehan suami.
3. Istri Puti (ayyāsama)
Istri yang malas, kaku, rakus, kasar bicaranya
Suka bergunjing, menguasai suami.
(Aṅguttara Nikāya IV hal. 91)
Sebaliknya, Sang Buddha menguraikan tentang empat jenis istri yang dipandang baik (devi), ideal dan patut dihormati oleh para pria atau suami adalah sebagai berikut:
1. Istri Ibu (mātāsama)
Seorang istri yang hatinya penuh kasih sayang dan
cinta kasih, sangat memperhatikan suami dan
menjaga kekayaan keluarga yg dikumpulkan oleh suami.
2. Istri Saudara (bhaginasama)
Seorang istri yang memperlakukan suami
seperti adik terhadap kakak, melayani suami dan
berhati lemah lembut.
3. Istri Sahabat (sakhisama)
Menyenangi kehadiran suami
seolah-olah baru bertemu setelah berpisah lama,
berkepribadian anggun, lemah lembut dan setia kepada
suami.
4. Istri Pelayan (dāsisama)
Seorang istri harus tenang, sabar, menerima semua
perlakuan (yang) wajar dan mendengarkan dengan
rendah hati kata-kata suami. (Aṅguttara Nikāya IV hal. 93)
Kemudian kepada pria maupun wanita yang ingin menempuh kehidupan perumah tangga (gharāvāsa), Sang Buddha juga menganjurkan untuk melaksanakan empat hal:
1.Uṭṭhānasampadā
Rajin dan bersemangat dalam mengajarkan apa saja, ia terampil dan produktif, berminat dan meneliti cara-cara yang ditempuhnya, serta mampu mengelola pekerjaannya secara tuntas, dalam mencari nafkahnya.
2.Ārakkhasampadā:
Menjaga dengan hati-hati kekayaan apapun yang telah diperoleh dan tidak membiarkannya hilang atau mudah dicuri.
3.Kalyānamitta
Memiliki teman-teman baik, dan tidak bergaul atau mengikuti orang jahat.
4.Samajivitā
Menempuh cara hidup yang sesuai dan seimbang dengan penghasilannya, ibarat sebuah neraca yang mantap, hidup tidak kikir dan tidak boros. (Aṅguttara Nikāya IV hal. 281)
Semoga ulasan Dhamma yang ringkas dapat menjadi lentera penerang bagi para umat yang ingin menempuh kehidupan rumah tangga.
Sebagian besar umat Buddha, upasaka/upasika menempuh jalur kehidupan normal sebagai perumah tangga (gharāvāsa).
Hubungan Antara Suami Istri
Ada beberapa faktor yang diajarkan dan ditunjukkan Sang Buddha kepada pasangan suami istri, yang akan menempuh kehidupan rumah tangga (gharāvāsa) agar mendapat keharmonisan dan kebahagiaan yaitu :
1. Sama Saddhā ( sama keyakinan)
Dalam kehidupan sehari-hari, saddha/keyakinan suami istri yang baik tentu saja adalah kepada Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Saṅgha), sehingga kita dapat mengetahui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa dan tentang Dhamma Niyama (Hukum Universal) yang mengatur alam semesta di jagad raya ini beserta isinya. Untuk memperkuat saddhā/keyakinan pada Tiratana, pasangan suami istri yang baik harus sering melakukan perenungan tentang adanya Hukum Kamma. (Majjhima Nikāya, 135)
2. Sama Sīla (sama moralitas)
Suami dan istri sama-sama melaksanakan latihan peraturan moral. Dengan bertekad secara murni dan konsekuen akan menjalankan Pañcasīla Buddhis sebagai kekuatan pondasi rumah tangga.
Pañcasīla :
a.Bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk
hidup,
b.Bertekad melatih diri menghindari pengambilan barang
yang tidak diberikan/barang yang bukan miliknya,
c.Bertekad melatih diri menghindari perbuatan asusila,
d.Bertekad melatih diri menghindari ucapan yang tidak
benar (dusta)
e.Bertekad melatih diri menghindari segala minuman keras
yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran.
(Aṅguttara Nikāya V)
3.Sama Cāgā (sama kemurahan hati)
Pasangan suami istri mempunyai tekad dan semangat untuk melakukan kebaikan dan pertolongan pada kebahagiaan yang ditujukan untuk semua makhluk. (Mahatidana)
4. Sama Paññā (sama kebijaksanaan)
Pasangan suami istri akan mengerti dan memahami konsepsi pengertian pada kehidupan tentang anicca, dukkha dan anatta.Anicca(ketidakkekalan),dukkha(sulit mempertahankan
sesuatu karena sesuatu itu tidak kekal), dan anatta (tanpa inti atau jiwa yang kekal). Sampai tercapainya penerangan sempurna atau Nibbāna.
Sang Buddha juga menyebutkan dalam ajaran-Nya :
- Pria yang mau menjalankan Pañcasīla Buddhis disebut
pria berwatak baik (deva).
- Wanita yang mau menjalankan Pañcasīla Buddhis disebut
wanita berwatak baik (devi).
- Pria yang tidak menjalankan Pañcasīla Buddhis disebut
pria berwatak tidak baik (chavo).
- Wanita yang tidak menjalankan Pañcasīla Buddhis disebut
wanita berwatak tidak baik (chava).
(Aṅguttara Nikāya II hal. 53)
Kemudian, kepada para wanita atau para istri yang ingin menjalankan sifat sebagai wanita baik (devi), Sang Buddha menganjurkan agar menjauhi dan meninggalkan tiga sifat seperti yang tertera di bawah ini:
1. Istri Pembunuh (vedhakasama)
Istri yang tidak kenal belas kasihan, batinnya kotor
membenci suami, menginginkan pria lain, dan
ingin membunuh.
2. Istri Perampok (corisama)
Istri yang senang merampok hasil perolehan suami.
3. Istri Puti (ayyāsama)
Istri yang malas, kaku, rakus, kasar bicaranya
Suka bergunjing, menguasai suami.
(Aṅguttara Nikāya IV hal. 91)
Sebaliknya, Sang Buddha menguraikan tentang empat jenis istri yang dipandang baik (devi), ideal dan patut dihormati oleh para pria atau suami adalah sebagai berikut:
1. Istri Ibu (mātāsama)
Seorang istri yang hatinya penuh kasih sayang dan
cinta kasih, sangat memperhatikan suami dan
menjaga kekayaan keluarga yg dikumpulkan oleh suami.
2. Istri Saudara (bhaginasama)
Seorang istri yang memperlakukan suami
seperti adik terhadap kakak, melayani suami dan
berhati lemah lembut.
3. Istri Sahabat (sakhisama)
Menyenangi kehadiran suami
seolah-olah baru bertemu setelah berpisah lama,
berkepribadian anggun, lemah lembut dan setia kepada
suami.
4. Istri Pelayan (dāsisama)
Seorang istri harus tenang, sabar, menerima semua
perlakuan (yang) wajar dan mendengarkan dengan
rendah hati kata-kata suami. (Aṅguttara Nikāya IV hal. 93)
Kemudian kepada pria maupun wanita yang ingin menempuh kehidupan perumah tangga (gharāvāsa), Sang Buddha juga menganjurkan untuk melaksanakan empat hal:
1.Uṭṭhānasampadā
Rajin dan bersemangat dalam mengajarkan apa saja, ia terampil dan produktif, berminat dan meneliti cara-cara yang ditempuhnya, serta mampu mengelola pekerjaannya secara tuntas, dalam mencari nafkahnya.
2.Ārakkhasampadā:
Menjaga dengan hati-hati kekayaan apapun yang telah diperoleh dan tidak membiarkannya hilang atau mudah dicuri.
3.Kalyānamitta
Memiliki teman-teman baik, dan tidak bergaul atau mengikuti orang jahat.
4.Samajivitā
Menempuh cara hidup yang sesuai dan seimbang dengan penghasilannya, ibarat sebuah neraca yang mantap, hidup tidak kikir dan tidak boros. (Aṅguttara Nikāya IV hal. 281)
Semoga ulasan Dhamma yang ringkas dapat menjadi lentera penerang bagi para umat yang ingin menempuh kehidupan rumah tangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar